Menanti Senyuman
Matahari mulai menyingsing di ufuk timur, sinarnya mulai menembus jendela kamarku. Kehangatannya membangunkanku dari tidur lelapku. Pelan, kubuka jendela dan kuhirup udara sejuk dalam – dalam, seakan tak akan kutemukan lagi esok atau lusa. Yahh… aku memang begitu… rasanya memang tak mungkin lagi tuk bertahan lebih lama lagi dengan penyakit yang ku derita. Kanker otak.
Sudah lama kanker ini menggerogoti tubuhku , mungkin sudah selama setahun aku mengetahuinya. Dan sampai saat ini kedua orang tuaku tak ada yang mengetahuinya.aku tidak mau menyusahkan hati mereka, lagi pula mereka kelihatannya sangat sibuk…. Sampai tidak pernah memperhatikan wajahku yang semakin memucat. Kakakku pun juga sama halnya,dia benar – benar tak acuh padaku, adik satu – satunya yang dia miliki.kakakku lebih perhatian kepada koleksi “Motor Gede”nya yang hamper memenuhi garasi rumah yang lumayan lebar. Hahhhh!!!... aku merasa tak pernah dianggap di keluarga ini.
@@@
“kakk, aku berangkat sekolah bareng kakak yaa?” pintaku
“gak bisa… aku kuliah pagi, pagiii….banget…jadi maaf yahh Rissa, aku berangkat duluan yaa?? Lagian juga ada pak Soleh tuhhh” jawab kakakku berkelit
“iya deh kakk… kakak duluan gak papa” kataku pasrah
Huhhh…bilang aja malu boncengin aku…bilang aja malu punya adek yang kata temen kakak aku ini gak keren… ada rasa sebal dan sakit hati, tapi harus bagaimana lagi?? Semua orang tak menganggapku ada di sekitarnya, tapi aku tetap sayang mereka semua J
Arrgggghhhh!!!!.. L
Pening…. Sakitt sekali dikepala…pandanganku mulai kabur.. ahh… darahku mulai menetes.
“Bu… saya izin ke kamar mandi”kataku, aku tidak ingin ada orang yang tahu akan hal ini.
Secepatnya kubasuh seluruh darah yang masih tersisa di hidungdan mukaku…hahh…. Apakah aku bisa sembuh? Dan melihat mereka tersenyum kembali padaku? Sepertinya pertanyaan ini sangat sulit untuk kujawab…. Hanya waktu yang kan menjawab semuanya….
Teeeetttttt….. teeeettttt…… teeeetttttt….!!!!!!!!
Hahhh…aku seperti tak ingin mendengar suara tersebut…. Aku muak dengan keadaan rumah dan keluargaku yang berantakan… senyap, seperti tak berpenghuni.. hampir tiap hari kulalui tanpa ada kata – kata … kami serumah… tapi seperti tak pernah kenal.
Aku hanya bisa melamun.
“hey…Riss.. kamu nggak pulang? Kelas udah sepi nihh…” kata Lena membangunkanku dari lamunan., dia adalah teman sebangkuku di sekolah.
“hahh.. iya, makasih udah ngingetin. Aku nantijuga bakalan pulang kokk”jawabku
“iya iya.. eh,kalau boleh tau, kamu nglamunin apa sihh?? Hayo.. pasti cowok yang tadi lewat depan kelas kita itu yaahh??” Tanya Lena menggodaku.
“hahh? Enggaklah… lagian cowok yang lewat tadi tuh… gak Cuma satu Lenn” jawabku,
dia ini juga konyol… aku gak akan mikirin tentang cowok dengan keadaanku yang tak punya masa depan ini. Upss!!!
Tapi memang mungkin ada benarnya kata – kataku tadi. Aku pernah baca di suatu artikel, bahwa hanya 20 % saja yang berhasil selamat. Itupun mereka mengetahui saat masih stadium awal. Sedangkan aku ini?? Aku tahu sudah sangat terlambat, sudah sangat parah..dan tak mungkin untuk disembuhkan lagi… hah…
Beberapa hari belakangan ini kondisiku semakin parah, tubuhku semakin lemah.. ahh… kenapa aku harus semenderita ini??? Setiap hari hanya menahan sakit dan selalu tersiksa, dan yang paling menyesakkan adalah seingatku.. aku tidak pernah melihat senyum dari ibu, ayah, dan kakakku…. Mengapa?
Pelann..kuraih kalender yang terpampang di dinding kamarku… kupandangi tanggal berlingkar merah di bulan Juli itu.. yaa.. tanggal 12 Juli, tanggal lahirku… Ulang Tahunku!!! Yaa… dua minggu lagi adalah hari ulang tahunku… haha….bahagia sekali..saat itu aku akan genap berusia 17 tahun… hemmm aku akan merasakan apa itu yang dinamakan ‘Sweet Seventeen’… tapi apakah aku akan melihat senyum mereka di ulang tahunku? Apakah mereka akan memberiku hadiah yang sangat kuinginkan itu? Apakah mereka akan memberiku sedikit waktu mereka, walau hanya sekejap mata untuk memberiku kebahagiaan sebelum aku menutup mata?
Tuhan….hanya engkaulah yang dapat mendengar rintihanku
Hanya engkaulah yang dapat mengabulkan semua permohonanku…
Disini ku menengadahkan wajahku memohon padamu
Tuhan… aku hanya ingin melihat senyum tulus mereka sebelum aku menutup mata..
Sebelum aku pergi meninggalkan mereka tuk selamanya..
Aku mohon Ya Tuhann… kabulkanlah doaku ini…
Aminn…..
Aku mengerjap – ngerjapkan mataku sejenak, diluar kamarku terdengar suara berisik seperti orang bertengkar… sepertinya kedua orang tuaku. Ah…hey! Apa??! Aku baru sadar… bertengkar??! Aku harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kreekkk…. Dengan tenaga yang tersisa kubuka pintu, pandanganku yang kabur dan pendengaranku yang juga terganggu, aku mencoba menangkap arah pembicaraan mereka,namun aku tak bisa mendengar dengan jelas apa saja yang mereka ucapkan, hanya satu yang kudengar dengan jelas… “CERAI”
Oh tidakkk…aku tidak mau semua ini terjadi, aku harap ini hanya mimpi… kucoba menampar wajahku.. berharap untuk bangun dari tidur lelapkudan semua yang kulihat tadi hanyalah mimpi. Argh.. sakitt.. ternyata ini semua adalah kenyataan…
“hentikan!! Aku tidak ingin melihat semua ini! memuakkan!” bentakku, aku tahu…aku tak seharusnya aku tidak mengatakan itu didepan keluargaku, tapi aku sudah muak melihat dan mendengar semua pertengkaran ini.
“ahh… kau tak seharusnya mendengar ini… cepat pergi kekamar dan tidur” kata ibuku balas membentak
Ohh… aku tidak kuat mendengarkannya…..aku sempat menutup pintu kamarku sebelum akhirnya … brugh!!! Dan tak ingat apa – apa lagi.
Sinar hangat matahari membelai lembut wajahku… aku hanya menggeliat.. kepalaku terasa berat sekali..apa yang telah terjadi? Aku berusaha mengingatnya.. tapi semakin aku berfikir keras, kepalaku terasa semakin pening, semakin berat… ohhh… bayangan ayah dan ibuku berkelebat di otakku.. apa yang terjadi…??? Ahh!!! Sudah jam 6 pagi?!?! Aku harus segera bersiap.
@@@
“hey… kenapa wajahmu pucat? Apakah kamu sakit?” Tanya Lena saat aku tiba di bangkuku..
“emhh…tidak…hanya sekedar tak enak badan” jawabku sekenanya, aku tak mau sahabatku ini mengetahui keadaanku yang sebenarnya. Aku takut dia akan sedih…
“ohh… emmm…bagaimana kalau kamu nanti ikut ke rumahku?” ajak Lena. Sepertinya dia tahu apa yang sebenarnya kurasakan
“acara apa?” tanyaku
“Pajama Party. Kau mau ikut?” jawab Lena dengan mimik agak kuatir.mungkin karena melihat keadaanku yang hampir seperti mayat hidup.
“ehmmm… yahh…!!! Ide yang bagus, aku mau ikut” jawabku bersemangat
“benarkah?”
“kau tak percaya?” tanyaku meyakinkan
“apa tidak apa – apa untukmu?”
“bukankah kau yang memintaku datang?”
“yaa…dan…yeach…. Baiklah… lebih baik lagi kalau lamu tidak pulang ke rumah, nanti langsung datang ke rumahku… kita akan menonton film bersama” ajak Lena
“baiklahh.. ide yang bagus”
“sip!!!” kata Lena, diakhiri dengan acungan jempol.
'To : +6281234567890
'' Aku akan menginap di rumah temanku. Lena
Aku tidak akan apa – apa''
“apakah ibumu akan baik – baik saja dengan pesan seperti itu?” Tanya Lena saat pulang sekolah.
“dia tak akan mengkhawatirkan ku” jawabku meyakinkan
“baiklah kalau begitu” akhir Lena
“ok”
“Riss… kita pergi ke mall dulu ya.. sekalian sama beli camilan” ajakLena
“iya, lah trus temen lainnya gimana?” tanyaku,karna tadi Lena bilang bahwa Dinda,Anis dan Fira juga akan datang
“tenang aja… aku udah bilangin kokk… ntar kita ketemuan di mall” jawab Lena
“ok.lah.. “ balasku datar.
Kulihat Lena sedang asyik memilih pakaian… hah! Entah apa yang ada di fikirannya setiap melihat model – model pakaian baru yang di etalase… dia selalu menggila…. Seperti ingin memborong semua baju di sana. Huh! Apakah dia ingat tujuan utama mereka kemari? Aku lalu pergi sendiri mencari camilan untuk ‘Pajama Party’ nanti.
Setelah mungkin sekitar 3 jam muter – muter di mall, kami memutuskan untuk pulang.. ternyata teman – teman sudah menunggu di luar mall. Akhirnya kami ke tempat parkir bersama, kebetulan parkirnya ada diseberang jalan,jadi kami harus menyeberang. Saat itu tiba – tiba dompetku terjatuh di jalan… dan ketika aku kembali untuk mengambilnya, aku mendengar suara Lena meneriakikudibarengi dengan decit rem dan kilatan lampu..
“Resssaaaaaaaaaaaa… awasssssss!!!!!!!!!!”
Sshhhh…. Aku tak ingat apa – apa lagi selain.. darah yang mengalir… entah darimana… gelapp…pusingg..
@@@
Kepalaku terasa berat… pening, aku mencoba untuk membuka mataku…. Akh!! Berat sekali mata ini untuk terbuka… saat berhasil membuka mata, aku hampir saja mnjerit,melihat keadaanku yang penuh perban.
“ohh… kau sudah bangun nak?” Tanya ibuku dengan wajah cemas dan khawatir, hah! Tak ada senyum yang selamaini kuharapkan terlukis di wajah manis ibuku.
“aku dimana?” tanyaku, emmm mungkin aku agak amnesia.. untung tidak parah..
“di rumah sakit sayang… kamu sekarang di rumah sakit” jawab ibu, tetap dalam ekspresi khawatir
Pada saat itu ayah masuk dan langsung mendekati tempat tidurku tanpa mengacuhkan ibu. Ada apa ini??aku berfikir keras,namun kepalaku sepertinya belum mau kuajak memikirkan hal yang berat – berat seperti ini.
“ kamu sudah baikan sayang?” Tanya ayahku tanpa ekspresi, aku tahu dia bingung dan tak tahu harus bagaimana agar aku merasa lebih baik
Aku hanya menggeleng dan tersenyum, berharap ayah akan membalas senyumanku, tapi dugaanku salah, ayah tak sedikitpun membalas senyumanku.
Kini kulihat hal yang sangat ganjil, ayah dan ibuku saling berdampingan, tapi mereka saling bersikap dingin satu sama lain. Ahhh.. apa lagi ini?? Aku pusing sekali… tiba – tiba seorang dokter masuk ke kamarku dan mengajak ayah dan ibuku untuk keluar. Aku mencoba menguping, semoga aku mendngar apa yang mereka bicarakan, ahh..namun tak terdengar, aku hanya melihat diseberang kaca,ibuku menutup mulutnya dengan kedua tangannya seperti hendak menangis.
Apa yang mereka bicarakan? Apakah dokter itu memberi tahu orang tuaku bahwa aku mengidap kanker otak?? Tidak – tidak!!! Mereka tidak boleh tahu akan hal ini!
Kreekkkk!!!.....
Terdengar pintu kamar terbuka… dan ibuku langsung menghambur memelukku sambil menangis tersedu – sedu.
“aaa….apa…yy…yanggg..tte…ter..jja..di..bb..uu??” tanyaku terbata – bata,dadaku terasa sesak
“maafkan ibu nakkk….huu…huuu…huuu…hiks…maafkan ibumu yang bodoh ini” kataibu di sela – sela tangisnya
“uun…ttu…k app…pa bu?”
“untuk semua.. kkesalahan ibu…ibu telah membiarkanmu..ibu tak pernah memperhatikanmu…hiks..maafkan ibu nakk…hiks” ibuku terisak
‘buu.. andaikan ibu tahu,Rissa tak pernah dendam terhadap ibu, semua kesalahan ibu telah Rissa maafkan jauhh sebelum ibu minta maaf jadi..jangan sepertiini buu’
“tidak apa – apa bu..” jawabku,
“aku melihat ayah yang terpekur di kursi, aku tak tahu apa yang difikirkan, memang ayahku ini sulit di tebak.
Ahh… sudah pukul 9 malam, pantas aku sudah mengantuk, kulihat ibu sedang trtidur disampingku..dan ayah, tidur di atas kursi di pojok ruangan. Aku tersenyum sendiri, baru kali ini aku bisa sedekat ini dengan orang tuaku.
@@@
Hari ini tanggal 12 Juli, hari ulang tahunku
Keadaanku, meski tidak bisa dikatakan membaik karena kankerku yang semakin mengganas, namun perbanku sudah lepas semua… ahhh…senangnya.
“pagi Ressaa…bagaimana keadaanmu? Maaf baru bisa kesini… emmm…selamat ulang tahun yah” sambut Lena saat dia masuk ke kamarku
“iya..aku sudah baikan, trimakasih mau kesini” jawabku
“oh iya Riss..nih, kita bawa kado buat kamu” kata Fira sambilmemberikan kado dibakut kertas kado pink,warna kesukaanku
“trimakasihh…kalian baik sekali padaku” kataku senang, sambil menerima kado pemberian dari Lena, Fira, Dinda, dan Anis. Tiba – tiba, ayahku masuk, diikuti ibu dan kakakku.ayah smpat bingung, kenapa ada kado –kado disampingku.
“ada apa ini?” Tanya ayahku kebingungan
“hari ini Ressa ulang tahun oom..” jawab Lena
“astaga! Aku smpai lupa hari ulang tahun anakku sendiri” kata ayah.. dengan mimic yang tidak di buat – buat
“nakk..kamu ingin hadiah apa dari kami?” Tanya ibu
“iya nakk.. apapun yang kamu minta,akan kami penuhi” sambung ayah dengan penuh kesungguhan
Tiba –tiba saja aku merasa, bahwa ini ulang tahun terakhirku, mengapa?
Emm..baiklah…apapun yang terjadi,aku harus melihat mereka tersenyum, meski mungkin untuk yang terakhir kalinya.
“aa…ku hanya ingin kalian semua tersenyum padaku” pintaku mantap
“ohh.. emm.. itu saja?” Tanya ibuku
“emm..iya, ayah dan ibu berjanjilah padaku, kalian tidak akan bercerai” pintaku lagi
“ahh?? Baiklah, kami akan bertahan untukmu nakk” jawab ayah meyakinkanku
“ayolah…tersenyum sekarang” rajukku
Ayah dan ibuku tersenyum, tampak dipaksakan sihh… tapi itu sudah cukup membuatku bahagia, karena telah melihat senyum mereka yang selama ini kunantikan.
Arghhhh!!... tiba – tiba kepalaku pusing..tidak! ini bukan pusing.. lebih tepatnya nyeri, dan sangat sakit, tiba – tiba hidungku mimisan dan setelah itu, aku tak sadarkan diri, entah pingsan atau apa..ibu langsung memanggil dokter agar dilakukan tindakan.
Aku membuka mataku pelan, kulihat selang oxygen telah terpasang.. dan ibuku menatapku dengan penuh harap.
“ohh…sayang syukurlah kau bangun” kata ibuku sambil bercucuran air mata.
Aku tak ingin melihat ibu menangis.
“bhuuu….” Kataku dengan lemas
“Iya sayang, ada apa?” jawab ibu
“senyumm” kataku dengan suara yang mirip dengan desahan
Ibuku tersenyum, seperti dipaksakan, di sela – sela tangisnya.aku tersenyum puas.
Aku siap menghadapi takdir…
tiba – tiba tubuhku terasa ringan.. sakitku tak lagi kurasa,bebanku serasa hilang semua. Dan kulihat jasadku terbujur kaku dengan sebentuk senyum. Senyum bahagia J
»SELESAI»
Tidak ada komentar:
Posting Komentar